KMP Perkuat Modernisasi Pertanian melalui Penerapan PM-AAS di Tulang Bawang Barat
Tulang Bawang Barat, 28–29 Juli 2026 — Klinik Modernisasi Pertanian (KMP) di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, terus diperkuat melalui penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS). Pendekatan ini menjadikan KMP sebagai pusat layanan modernisasi pertanian yang menghubungkan identifikasi permasalahan di tingkat petani dengan solusi berbasis teknologi sesuai karakteristik wilayah.
Kegiatan ini melibatkan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Peternakan (TPHPKP) Kabupaten Tulang Bawang Barat, BRMP Sistem, BRMP Lampung, penyuluh pertanian, PT Pupuk Indonesia, kelompok tani, serta koperasi. Melalui sinergi tersebut, berbagai layanan KMP diperkuat, mulai dari pengembangan demplot PM-AAS, klinik pertanian bergerak, pengujian tanah, hingga pendampingan teknis kepada petani.
Diskusi teknis dipimpin oleh Dr. Jekvy Hendra selaku Penanggung Jawab KMP ICARE BRMP Sistem. Dalam sesi tersebut, dilakukan identifikasi berbagai permasalahan yang dihadapi petani sekaligus pembahasan alternatif solusi melalui penerapan teknologi PM-AAS. BRMP Sistem juga menyiapkan dukungan berupa alat uji tanah, benih, pengembangan demplot, serta pendampingan penerapan teknologi. Lokasi dan model demplot akan disesuaikan dengan kondisi lahan dan tingkat produktivitas petani agar teknologi yang diterapkan memberikan hasil yang optimal.
Dalam diskusi bersama petani, teridentifikasi sejumlah tantangan yang dihadapi di lapangan. Dari aspek kondisi lahan, permasalahan meliputi pH tanah yang rendah, tekstur tanah berpasir, keterbatasan air, hingga kualitas air yang mengandung logam. Sementara itu, dari aspek budidaya, petani menghadapi ketidaksesuaian varietas, pertumbuhan tanaman yang tidak seragam, serta serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) seperti tikus, burung, keong, ulat, dan penyakit blas. Waktu tanam yang belum serempak juga menjadi perhatian karena meningkatkan risiko serangan tikus pada lahan yang lebih dahulu ditanami. Temuan tersebut menjadi dasar dalam menentukan rekomendasi teknologi dan pendampingan sesuai karakteristik masing-masing lahan.
Sebagai tindak lanjut atas berbagai permasalahan tersebut, strategi pemupukan akan disesuaikan dengan kondisi lahan berdasarkan hasil pengujian tanah, termasuk rekomendasi penggunaan dolomit untuk membantu memperbaiki pH tanah. PT Pupuk Indonesia turut mendukung melalui pendampingan pemupukan dan fasilitasi penyaluran pupuk sesuai ketentuan, termasuk pemenuhan persyaratan kelompok tani dan RDKK. Petani juga didorong untuk meningkatkan pemanfaatan pupuk organik sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas tanah. Di sisi lain, penguatan kapasitas penyuluh melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) diharapkan mampu memperluas pendampingan sekaligus meningkatkan pemahaman petani dalam menerapkan PM-AAS.
Pendekatan yang dikembangkan tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan, tetapi menempatkan KMP sebagai pusat layanan penyelesaian permasalahan pertanian melalui pengujian tanah, konsultasi teknis, klinik pertanian bergerak, pengembangan demplot, serta pendampingan berkelanjutan. Penguatan layanan tersebut juga disinergikan dengan pengembangan kelembagaan ekonomi petani dalam kerangka Program ICARE, termasuk penguatan koperasi dan rantai nilai pertanian.