Dorong Petani Naik Kelas, ICARE Perkuat Manajemen Organisasi, Bisnis, dan Permodalan Petani
Tulang Bawang Barat - Upaya mewujudkan petani yang mandiri, profesional, dan berdaya saing terus diperkuat melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Manajemen Organisasi, Bisnis, dan Permodalan Petani Pelaku Rantai– ICARE yang digelar pada Jumat, 5 Desember 2025 di Tulang Bawang Barat, Lampung. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan kapasitas bagi petani agar mampu bertransformasi menuju pertanian modern dan berkelanjutan.
Dalam pembingkaian acara, disampaikan bahwa tantangan utama kelembagaan tani saat ini adalah masih banyaknya kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan) yang belum berbadan hukum. Kondisi ini membuat posisi tawar petani masih lemah dan sulit terhubung dengan entitas usaha lain. Melalui dukungan Kementerian Pertanian dan Program ICARE, petani diarahkan untuk membentuk korporasi petani yang legal, profesional, dan memiliki nilai tambah sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
Materi pertama disampaikan oleh Septiana dengan topik Penguatan Keterampilan Organisasi Petani. Ia menekankan bahwa peningkatan kapasitas organisasi dapat dilakukan melalui pelatihan, bimbingan teknis, dan pendampingan yang berkelanjutan. Menurutnya, organisasi petani yang kuat akan membuka akses pasar yang lebih luas dan meningkatkan daya tawar kolektif. Selain itu, penguatan manajemen keuangan melalui pembukuan sederhana dan optimalisasi iuran anggota (wajib dan pokok) menjadi kunci untuk menciptakan transparansi dan akuntabilitas organisasi.
Sementara itu, Aang sebagai pemateri kedua mengulas pentingnya Penguatan Keterampilan Bisnis Petani. Ia menyoroti bahwa sebagian besar petani masih berorientasi pada pola “tanam–panen–jual” tanpa perencanaan usaha yang matang, sehingga keuntungan yang diperoleh belum optimal. Untuk menjawab tantangan tersebut, petani didorong memahami strategi bisnis melalui konsep 4P (Product, Price, Place, Promotion) atau marketing mix, serta mulai mengakses pasar modern agar produk pertanian memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Kegiatan bimtek ini juga menghadirkan success story koperasi, Ibu Sri yang menceritakan perjalanan pembentukan usaha petani. Berawal dari Kelompok Wanita Tani (KWT), kemudian berkembang menjadi usaha simpan petani dan koperasi. Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, termasuk persepsi negatif dari sebagian masyarakat, koperasi tersebut mampu bertahan dan berkembang melalui komitmen, transparansi, dan kerja sama antaranggota.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Agus Triwan, perwakilan poktan, mengungkapkan kendala yang dihadapi petani, yakni fluktuasi harga. Saat harga tinggi petani ramai menanam, namun ketika panen justru harga turun. Menanggapi hal tersebut, pemateri menjelaskan bahwa hukum pasar tidak terlepas dari keseimbangan antara penawaran dan permintaan. Untuk menstabilkan harga, petani perlu melakukan analisis pasar serta menjajaki contract farming, yakni kesepakatan atau kontrak dengan pembeli terkait harga, kualitas, dan mutu produk.
Sementara itu, Shaleh, perwakilan poktan lainnya, menyampaikan harapan agar kegiatan bimtek seperti ini dapat terus dilaksanakan. Ia menilai dukungan dari dinas dan instansi terkait sangat dibutuhkan untuk menggerakkan petani agar lebih maju dan mampu mencapai hasil usaha yang maksimal.
Melalui kegiatan ini, Program ICARE diharapkan menjadi katalisator transformasi petani dari sekadar produsen menjadi pelaku usaha pertanian yang tangguh, terorganisir, dan berorientasi pasar, sehingga petani benar-benar mampu naik kelas dan berdaya saing di era pertanian modern.